MAHKOTAKATA

Refleksi Realita dan Rasa

Erupsi Merapi Terburuk Sejak 1870

TANGIS pilu makin terdengar menyentak dari bencana letusan Merapi. Gunung yang terbilang aktif itu semakin bereskalasi: Mengirimkan awan panas, hujan abu, kerikil hingga magma panas ke kawasan sekitarnya. Makin jauh, makin banyak jiwa yang harus ditangisi.

Eskalasi ini memang sungguh mengejutkan. Dini hari, Jumat (5/11/2010), Gunung Merapi kembali meletus. Kali ini lebih dahsyat dari hari-hari sebelumnya. Bahkan disertai dengan suara gemuruh yang menakutkan. Kesaksian itu disampaikan seorang warga Jalan Kaliurang, Sri.

“Sejak jam 10 (malam) ada suara gemuruh, hilang, terdengar lagi. Tapi yang paling jelas terdengar sekitar jam 12. Suara gemuruhnya kencang sekali, seperti datang dari dalam bumi,” kata Sri.

Ketika suara gemuruh kencang itu datang, para warga langsung ke luar rumah. “Karena membuat rumah juga bergetar. Anak-anak dibangunkan semua,” ujarnya.

Apalagi, malam tadi, cuaca juga mendung disertai petir. “Situasinya sangat menakutkan,” kata Sri.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono, menyatakan bahwa erupsi Merapi 2010 merupakan bencana terburuk Merapi sejak 1870 atau dalam kurun waktu 100 tahun.

“Erupsi Merapi tahun ini dapat dikatakan terburuk sejak 1870 karena saat ini sebanyak 32 desa dengan jumlah penduduk lebih dari 70.000 jiwa direkomendasikan harus mengungsi karena berada dalam zona berbahaya,” kata Surono.

Menurut dia, sebanyak 32 desa yang direkomendasikan mengungsikan warganya terdiri atas 17 Desa di Kabupaten Magelang, Klaten empat desa, Boyolali tiga desa dan di Kabupaten Sleman ada delapan desa.

“Saat ini Gunung Merapi dalam kondisi krisis, selain ditandai dengan letusan ekplosif jarak luncur awan panas terjauh mencapi 11,5 Kilometer (Km) di kali Bebeng dan di tempat lain jarak luncur awan panas mencapi 11 Km di Kali Putih, 10 Km di Kali Boyong dan 9,5 Km di Kali Gendol,” katanya.

Ia mengatakan, awan panas yang keluar dari puncak Merapi saat ini juga sudah mencapai ketinggian lebih dari 10 Km.”Ini kejadian yang mungkin baru kami alami sejak dari catatan sejarah 1870-an,” katanya.

 

November 5, 2010 - Posted by | Berita | , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: